TA DIGITAL
Evaluasi Potensi Likuifaksi Tanah Dasar Berdasarkan Metode Simplified Procedure pada Segmen STA 57+000–57+400 Proyek Pembangunan Jalan Tol Solo-Yogyakrta-NYIA Kulon Progo Seksi II Paket 2.2B = Evaluation of Soil Liquefaction Potential Using the Simplified Procedure at STA 57+000–57+400 of the Solo–Yogyakarta–NYIA Kulon Progo Toll Road Construction Project Section II Package 2.2B
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki risiko kegempaan yang tinggi akibat aktivitas Sesar Opak dan zona subduksi selatan Jawa, serta didominasi oleh endapan vulkanik muda Gunung Merapi yang rentan terhadap likuifaksi. Proyek Pembangunan Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo Seksi II Paket 2.2B pada Segmen STA 57+000–57+400 melintasi kondisi geologi tersebut, sehingga evaluasi potensi likuifaksi tanah dasar menjadi penting untuk menjamin keandalan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi likuifaksi menggunakan data Standard Penetration Test (SPT) dari lima titik bor (BH 108, BH 109,BH 111, BH 113, dan BH 103), menghitung faktor keamanan (FS), serta menentukan indeks potensi likuifaksi (LPI) berdasarkan tiga skenario magnitudo gempa, yaitu gempa historis Mω 5,8 (Gunungkidul, 2024), Mω 6,3 (Yogyakarta, 2006), dan gempa rencana Mω 7,5, dengan percepatan gempa puncak (PGA) 0,4g. Analisis dilakukan dengan metode Simplified Procedure menggunakan tiga pendekatan perhitungan Cyclic Resistance Ratio (CRR), yaitu dengan pendekatan Youd, Idriss & Boulanger, serta Andrus & Stokoe. dengan nilai FS terkecil dari ketiga metode digunakan untuk menghitung LPI. Hasil analisis pada 30 lapisan tanah jenuh air yang layak dievaluasi menunjukkan sebanyak 24 lapisan (80%) berpotensi likuifaksi pada skenario Mω 7,5, 19 lapisan (63,3%) pada Mω 6,3, dan 15 lapisan (50%) pada Mω 5,8, dengan FS terkecil dan paling kritis pada BH 111 kedalaman 5 m (FS = 0,168 pada Mw 7,5). Rata-rata LPI pada skenario Mω 7,5 sebesar 33,488 (kategori risiko sangat tinggi di seluruh titik bor), menurun menjadi 23,883 pada Mω 6,3 dan 20,084 pada Mω 5,8, dengan BH 111 sebagai titik paling kritis di sepanjang segmen tinjauan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa semakin besar magnitudo gempa yang ditinjau, semakin tinggi kerentanan likuifaksi tanah dasar pada lokasi penelitian.
Tidak tersedia versi lain